Pertumbuhan kelas menengah menjadi salah satu tanda keberhasilan pembangunan ekonomi. Namun, kenaikan pendapatan rumah tangga juga dapat mendorong konsumsi yang lebih intensif energi, seperti penggunaan kendaraan pribadi, pendingin ruangan, perjalanan udara, hingga konsumsi protein hewani.
Hal inilah yang menjadi perhatian Wishnu Chrisnur Cahya, mahasiswa Konsentrasi Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan MEP 72, dalam tesisnya mengenai hubungan antara kelas menengah, emisi karbon, dan kebijakan harga karbon.
Penelitian ini berangkat dari dua tren yang terjadi secara bersamaan. Di satu sisi, emisi CO₂ global telah mencapai tingkat tertinggi, sementara jalur kebijakan saat ini masih mengarah pada pemanasan sekitar 2,7°C. Di sisi lain, kelas menengah global diproyeksikan mencapai 5,3 miliar orang pada 2030, dengan sekitar 88 persen berada di Asia.
Teori Environmental Kuznets Curve (EKC) menjelaskan bahwa pada tingkat tertentu, pertumbuhan ekonomi dapat berbalik diikuti penurunan emisi. Namun, berbagai riset menunjukkan bahwa titik balik tersebut masih berada jauh di atas tingkat pendapatan sebagian besar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Melihat Data dari 185 Negara
Penelitian Wishnu menggunakan data panel 185 negara selama 2000–2020, yang mencakup negara-negara penyumbang 89 persen emisi gas rumah kaca global.
Penelitian membandingkan negara yang memiliki kebijakan harga karbon dengan negara yang belum menerapkannya untuk melihat apakah pengaruh pertumbuhan kelas menengah terhadap emisi berbeda di antara keduanya.
Negara-negara tersebut juga dikelompokkan menjadi empat tipe, yaitu Sustainable Decoupling, Subsistence Economies, Elite Emitters, dan Industrial Growth Path. Indonesia sendiri masih berada dalam kelompok Sustainable Decoupling. Perubahan posisi negara antarperiode kemudian divisualisasikan menggunakan diagram Sankey.
Bagaimana Penelitiannya Dilakukan?
Analisis dimulai menggunakan model fixed effects sebagai baseline, kemudian mencoba pendekatan Instrumental Variables (IV) untuk mengatasi masalah endogenitas.
Setelah tujuh kandidat instrumen yang diuji tidak memenuhi kriteria weak-instrument, metode penelitian kemudian beralih ke Sistem GMM dinamis (Blundell–Bond) yang menggunakan instrumen internal dari struktur data penelitian.
Apa Hasilnya?
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanpa harga karbon yang memadai, ekspansi kelas menengah cenderung diikuti oleh kenaikan emisi.
Temuan ini relevan bagi Indonesia, terutama di tengah pertumbuhan kelas menengah dan implementasi kebijakan pajak karbon yang telah diatur dalam UU HPP No. 7 Tahun 2021.
Bagi Wishnu, ketertarikan pada topik ini berawal dari kedekatannya dengan isu lingkungan sejak kecil. Perjalanan pendidikan dan pekerjaannya di bidang pemerintahan, ekonomi, dan keuangan negara kemudian membawanya menemukan keterkaitan antara minat tersebut dengan Ekonomi Lingkungan dan Ekonomi Hijau saat bekerja di Kementerian Keuangan dan belajar di MEP FEB UGM.
Tesis ini sendiri berkembang dari tugas-tugas kuliah pada semester kedua. Berbagai masukan saat presentasi, diskusi dengan dosen, proses bimbingan bersama Eny Sulistyaningrum, serta dukungan rekan-rekan MEP 72 ikut membentuk penelitian hingga akhirnya dapat dipertahankan dalam sidang tesis dan diterjemahkan menjadi rekomendasi kebijakan yang konkret.
[imam]


