KULIAH UMUM PERDANA: PEMBANGUNAN WILAYAH BERKELANJUTAN DALAM ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0

SLEMAN- Program Studi MEP FEB UGM menyelenggarakan Kuliah Umum Perdana Semester Gasal 2020/2021 secara virtual dengan Tema Pembangunan Wilayah Berkelanjutan dalam Era Revolusi Industri 4.0, Kamis (17/9) dan sebagai narasumber kuliah umum yaitu Prof. Dr.rer.nat. Muh Aris Marfai, S.Si., M.Sc. Dekan Fakultas Geografi UGM. Wakhid Slamet Ciptono, M.B.A., Ph.D. mewakili Kaprodi MEP FEB UGM membuka kuliah umum dan dihadiri 263 peserta terdiri dari sivitas akademika MEP FEB UGM serta di moderator oleh Dr. Wahyu Widayat, M.Ec.
Aris Marfai menyampaikan bahwa faktor kunci pembagunan wilayah yaitu ketersediaan sumberdaya bahan baku, iklim investasi yang baik, dan kepastian regulasi, serta kemampuan SDM menjadi kunci dalam pembagunan daerah. “Aspek spasial terkait persebaran postensi dan karakteristik wilayah menjadi penting dalam pembangunan wilayah,” ungkapnya. “Analisis spasial penting untuk menata pembangunan wilayah, imbuh Dekan Fakultas Geografi.
Menurut Aris Marfai tantangan perencanan pengembangan wilayah yaitu perubahan iklim, urbanisasi tinggi (tekanan penduduk), dan perkembangan kota yang dinamis. Sementara itu, pengembangan wilayah berkelanjutan menurut UN, 2015 yaitu memperhatikan aspek lingkungan, ekonomi, sosial. Sementara itu, perkembangan teknologi dan informasi global mempunyai peranan penting dan mempermudah dalam prencanaan pembangunan wilayah. “Kemudahan merencanakan, melakukan dan monitoring pembangunan wilayah,” ungkap Marfai.
Revolusi industri 1.0 hingga 4.0 mempunyai impikasi yang luar biasa dalam tatan pembangunan wilayah sehngga manusia sekarang harus beradaptasi dengan pekembangan teknologi informasi global. Marfai mencontohkan pada Revolusi Industri (RI) 1.0 berdampak pada optimalisasi lahan pertanian, RI 2.0 terkait kobektivitas wilayah kemudian muncul ekspansi dan kolonialisme, RI 3.0 komputerisasi GIS berkembang pesat dan data spasial berkembang sehingga muncul impact assessment (AMDAL) dan RI 4.0 dengan perkembangan digital muncul Coworking space. “Tata ruang mulai berubah, mall sudah mulai tutup, makelar berkurnang, pergudangan berkurang,” ungkanya. Sealain itu, dampak virtual space yaitu kebutuhan ruang fisik berubah dan penatauan ruang juga pun berubah.
Revolusi industri diikuti oleh pergeseran cara pandang, pergeseran pendekatan dan manajemen termasuk dalam pengembangan wilayah. Revolusi 4.0 memberikan berbagai kemudahan pada manusia untuk mengimplementasikan konsep pengembangan wilayah berkelanjutan berdasar tiga unsur utama yaitu keseimbangan ekologi, pertumbuhan ekonomi, dan keadilan sosial. Tantangan yang dihadapi dalam pengembangan wilayah berbasis revolusi industri 4.0 menurut Aris Marfai yaitu lambatnya respon pemerintah dalam memfasilitasi dan regulasi, sulitnya memberdayakan potensi tenaga kerja yang “berlimpah” akibat tergeser oleh kinerja komputer dan robot yang lebih efesien dan efektif, manajemen keberlimpahan data di publik. (humas)

Leave a Reply