Program Studi Magister Ekonomika Pembangunan, Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Gadjah Mada (MEP FEB UGM) kembali mencatatkan capaian membanggakan melalui prestasi alumninya. Farmila Sari, M.Ec.Dev., alumni Prodi MEP FEB UGM angkatan 69 dengan konsentrasi Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan (PEB), berhasil mempublikasikan artikel ilmiah dari penulisan tesisnya pada jurnal internasional bereputasi. Artikel berjudul “Marriage Law Reforms and Infant Health: Evidence from Indonesia” diterbitkan dalam Journal of Development Studies (JDS) yang merupakan jurnal internasional terindeks Scopus Q1. Penelitian ini ditulis bersama Gumilang Aryo Sahadewo, S.E., M.A., Ph.D. dan Wisnu Setiadi Nugroho, S.E., M.Sc., Ph.D., yang bersama-sama meneliti dampak kebijakan hukum terhadap isu pembangunan sosial di Indonesia. Publikasi ini menjadi salah satu kontribusi penting dalam literatur ekonomi pembangunan yang membahas hubungan antara kebijakan publik dan kesejahteraan masyarakat.
Penelitian tersebut secara khusus mengkaji dampak reformasi Undang-Undang Perkawinan Indonesia tahun 2019, yang menaikkan batas usia minimum pernikahan, terhadap praktik perkawinan anak serta risiko kematian bayi di Indonesia. Reformasi hukum ini dipandang sebagai langkah penting pemerintah dalam menekan praktik pernikahan usia dini yang masih menjadi tantangan di berbagai daerah. Melalui penelitian ini, para penulis berupaya memahami sejauh mana perubahan kebijakan tersebut mampu memberikan dampak nyata terhadap dinamika sosial dan kesehatan masyarakat. Dengan menelaah hubungan antara usia pernikahan dan kondisi kesehatan bayi, studi ini memberikan perspektif yang lebih komprehensif mengenai dampak jangka panjang dari kebijakan hukum yang berkaitan dengan keluarga dan pembangunan manusia.
Dalam melakukan analisis, penelitian ini memanfaatkan reformasi hukum tersebut sebagai sebuah natural experiment untuk mengidentifikasi dampak kebijakan secara kausal. Metode yang digunakan adalah Fuzzy Regression Discontinuity Design (Fuzzy RDD), yaitu pendekatan ekonometrika yang memungkinkan peneliti menilai perubahan yang terjadi sebelum dan sesudah kebijakan diberlakukan. Analisis dilakukan menggunakan data nasional yang representatif, yaitu Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) dan Potensi Desa (PODES) untuk periode 2018–2022. Kombinasi metode dan data tersebut memberikan dasar empiris yang kuat untuk memahami bagaimana perubahan kebijakan memengaruhi perilaku masyarakat serta dampaknya terhadap indikator kesehatan. Dengan pendekatan ini, penelitian mampu memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai efek kebijakan terhadap fenomena sosial yang kompleks.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan batas usia minimum pernikahan mampu menurunkan angka perkawinan anak sekitar 3–5 poin persentase. Selain itu, studi ini menemukan bahwa perkawinan pada usia muda secara signifikan meningkatkan risiko kematian bayi, sehingga bayi yang lahir dari ibu yang menikah pada usia sangat muda menghadapi risiko kesehatan yang lebih tinggi. Temuan ini memperkuat argumen bahwa praktik pernikahan usia dini tidak hanya berdampak pada aspek sosial, tetapi juga memiliki konsekuensi serius terhadap kesehatan generasi berikutnya. Penelitian ini juga menemukan bahwa dampak kebijakan tersebut terlihat baik di wilayah perkotaan maupun perdesaan serta di berbagai wilayah utama di Indonesia, yang menunjukkan bahwa kebijakan ini memiliki relevansi secara nasional. Meski demikian, pengaruh terhadap angka kematian bayi tetap dipengaruhi oleh berbagai faktor lain, seperti kondisi sosial ekonomi, tingkat pendidikan, serta akses terhadap layanan kesehatan.
Dari sisi kebijakan publik, penelitian ini menegaskan bahwa reformasi hukum yang meningkatkan batas usia minimum pernikahan dapat menjadi instrumen penting untuk mengurangi praktik perkawinan anak. Namun demikian, penelitian ini juga menunjukkan bahwa perubahan regulasi saja tidak cukup untuk menghasilkan dampak yang optimal. Upaya tersebut perlu didukung oleh penguatan implementasi kebijakan, peningkatan edukasi masyarakat, serta perluasan akses terhadap layanan kesehatan reproduksi dan pendidikan. Selain itu, pendekatan berbasis komunitas yang sensitif terhadap konteks sosial dan budaya juga dinilai penting untuk memastikan perubahan yang berkelanjutan di tingkat masyarakat. Pemberdayaan perempuan muda melalui pendidikan dan kesempatan ekonomi menjadi salah satu kunci untuk memutus siklus pernikahan usia dini dan meningkatkan kualitas kesehatan generasi mendatang.
Capaian ini menjadi bukti kontribusi alumni Prodi MEP FEB UGM dalam menghasilkan penelitian yang tidak hanya memperkaya khazanah akademik, tetapi juga memberikan rekomendasi kebijakan yang relevan bagi pembangunan di Indonesia. Melalui riset berbasis bukti, alumni Prodi MEP FEB UGM terus berperan dalam mendorong pengambilan kebijakan yang lebih inklusif dan berbasis data. Prodi MEP FEB UGM menyampaikan apresiasi atas prestasi yang diraih oleh Farmila Sari serta berharap capaian ini dapat menginspirasi mahasiswa dan alumni lainnya untuk terus berkarya melalui penelitian yang berdampak bagi masyarakat luas.
— Siwi —


