Isu perubahan iklim dan ketahanan bencana menjadi tantangan ekonomi nyata bagi kelompok paling rentan. Hal inilah yang mendorong Naufal Mohamad Firdausyan, mahasiswa double degree Magister Ekonomika Pembangunan (MEP) FEB UGM dan University of Glasgow, untuk hadir dan memaparkan hasil risetnya dalam ajang perdana the 1st Young Environmental Scientist (YES) Conference 2025. Konferensi tingkat nasional yang diinisiasi oleh WRI Indonesia ini berlangsung pada 2-3 Desember 2025 di Pullman Jakarta Indonesia Thamrin CBD.
Naufal terpilih sebagai salah satu pemakalah dalam sesi paralel ke-14 yang mengusung tema krusial: Integrating GEDSI (Gender, Equality, Disability, and Social Inclusion) in Climate Resilience Research. Dalam kesempatan tersebut, ia mempresentasikan makalah bertajuk “Natural Disaster, Environmental Awareness, and Vulnerability Among Poor Households in Indonesia”.
Menariknya, penelitian yang dipresentasikan ini merupakan pengembangan dari tugas akhir mata kuliah Ekonomika Kemiskinan pada konsentrasi Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan di MEP FEB UGM. Di bawah bimbingan Prof. Dr. Catur Sugiyanto dan Wisnu Setiadi Nugroho, Ph.D., riset ini berhasil bertransformasi dari sebuah tugas proposal kelas menjadi sebuah penelitian yang mampu bersaing di level nasional. Hal ini menunjukkan kualitas kurikulum di FEB UGM yang mendorong mahasiswa untuk menghasilkan luaran penelitian yang relevan dengan tantangan global.
Membedah Beban Ganda Kelompok Masyarakat Miskin
Riset Naufal mengeksplorasi bagaimana bencana alam bertindak sebagai guncangan (shock) yang menghantam rumah tangga miskin secara tidak proporsional. Menggunakan data dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), Naufal mengidentifikasi adanya fenomena beban ganda
Pertama, bencana mengakibatkan kehilangan aset dan mata pencaharian yang membuat posisi ekonomi masyarakat miskin semakin rentan. Selain beban material, masyarakat miskin juga menanggung dampak trauma psikologis yang mendalam, yang sering kali menghambat kapasitas mereka untuk bangkit kembali. Ini kemudian menghasilkan beban ganda yang dimaksud dan menyebabkan kelompok miskin menjadi rentan.
Berdasarkan temuan mengenai beban ganda tersebut, riset ini menawarkan serangkaian solusi kebijakan praktis yang dapat diambil oleh pemerintah untuk memperkuat ketahanan masyarakat rentan. Langkah pertama yang diusulkan adalah penerapan kebijakan afirmasi yang menyasar langsung kebutuhan dasar masyarakat miskin, seperti bantuan tunai tanpa syarat dan dukungan psikologis untuk memulihkan trauma pasca-bencana. Selain itu, program bantuan sosial perlu dikawinkan dengan skema pengembangan aset ramah lingkungan, misalnya melalui subsidi untuk pembangunan sumur resapan komunal atau pemberian insentif bagi petani yang menerapkan praktik pertanian regeneratif. Terakhir, penguatan kesadaran lingkungan di tingkat rumah tangga dapat didorong melalui pendekatan behavioral nudge dengan membangun ekosistem komunitas yang mendukung untuk meningkatkan perilaku dan persepsi lingkungan, seperti pengembangan bank sampah yang secara halus mengarahkan rumah tangga untuk mulai melakukan pemilahan sampah secara mandiri.
Partisipasi Naufal dalam konferensi ini tidak hanya terbatas pada presentasi, ia juga berpartisipasi dalam sesi Plenary Discussion: From Research to Action: Strengthening Research Contributions towards Collaborative Climate Adaptation. Sesi tersebut menyoroti betapa krusialnya peran akademisi dalam menyediakan data empiris untuk menyusun kebijakan iklim yang lebih inklusif. Naufal merefleksikan bahwa keterkaitan antara perubahan iklim hingga food-energy-water nexus adalah kunci dalam mendukung pembangunan berkelanjutan yang adil bagi seluruh lapisan masyarakat. Dari paper yang Naufal presentasikan, ia berencana mensubmit papernya ke dalam jurnal bereputasi sebagai bentuk kontribusi akademiknya sebagai mahasiswa double degree di MEP UGM.
Komitmen FEB UGM sebagai Sustainability Campus
Keikutsertaan mahasiswa di forum seperti YES Conference 2025 merupakan perwujudan nyata dari visi FEB UGM sebagai mencetak future-ready leader yang memiliki perhatian penting pada konteks sustainability. Riset kontemporer yang menggabungkan aspek kemiskinan dan lingkungan ini diharapkan memberikan dampak berkelanjutan bagi literatur ekonomi di Indonesia. Secara institusional, kontribusi ini mendukung beberapa target Sustainable Development Goals (SDGs), di antaranya SDG 1 (No Poverty) melalui advokasi perlindungan kelompok miskin dari guncangan bencana, serta SDG 13 (Climate Action) melalui penyediaan basis data untuk kebijakan adaptasi iklim yang lebih responsif.
Retno


